Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Ohayou Gozaimasu, minna-san…😀

Sebelumnya SD dan keluarga mau mengucapkan selamat Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah. Oh iya, tak lupa FO juga titip salam buat para pembaca blog ini. Mudah-mudahan Ramadhan kemarin banyak memberi kita kebaikan untuk menjadi manusia yang lebih baik.🙂

Kali ini SD bikin postingan spesial dari kampung halaman di Jogja. Ini adalah hari ke-2 saya berada di Jogja semenjak pulang dari liburan di Bali. Banyak hal yang ingin saya ceritakan tentang Bali, tapi mungkin ndak sekarang karena waktunya ndak akan cukup. Ndak enak tho, wong saya internetnya juga pinjam sama sedulur (saudara) kok. Hehehe…😀

Untuk gambar ilustrasinya kali ini saya menggunakan gambar Jogja waktu jadul dulu. Saya banyak sih foto-foto selama di Jogja selama 2 hari ini, cuma kan ndak seru kalau SD yang misterius ini tiba-tiba memunculkan foto gantengnya. Bisa-bisa nanti cewek-cewek pada histeris berbondong-bondong minta dilamar. Hehehe…😆 Lagian foto-foto di Jogjanya juga cuma foto sungkeman tok, baterai kameranya sangat boros soalnya. Digicam saya teknologinya termasuk agak jadul masih pakai baterai AA Alkaline, meskipun resolusinya sudah 10 megapixel.

Kegiatan saya di Jogja ini setelah pulang dari Bali cukup padat, mulai dari temu kangen, istirahat, pertemuan trah keluarga besar yang sudah 5 generasi, menyambangi rumah kosong milik Mbah saya yang ada di Gunung Kidul, hingga berwisata kuliner. Hehehe… pokoe maknyus makan-makannya! Pulang ke Jakarta nanti bisa tambah sempit celana saya.😀

Oh iya, saya lebarannya tanggal 30 Agustus 2011 lho, mengikuti sistem pengamatan bulan internasional serta membandingkannya dengan hasil hisab dan rukyat di 5 benua di seluruh dunia. Herannya kok Indonesia bisa beda sendiri ya? Padahal kan menurut Ushul Fiqh ulama-ulama besar dunia menyatakan jika ada 2 pendapat berbeda antara 29 dan 30 hari, maka ambil yang paling pendek. Hukum tersebut mengacu pada sejarah hidup Rasulullah yang selama hidup beliau selalu berpuasa Ramadhan selama 29 hari, kecuali hanya sekali 30 hari karena waktu itu mendung besar di jazirah Arab. Dengan riwayat tersebut, maka secara logika Bulan Ramadhan selalu berlangsung selama 29 hari. Lagipula pada sistem penanggalan bulan jarang sekali terjadi satu bulan itu 30 hari, lebih seringnya itu 29 hari karena kalender matahari dan kalender bulan berbeda 11 hari.

Kalau di Bali sendiri tanggal pada 30 Agustus 2011 lebaran berlangsung sangat meriah. Sepanjang pengamatan saya saat sholat Ied di lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, lebih dari 5000 orang memadati tempat sholat ied tersebut. Itu yang ndak pulang kampung lho, kalau ditambah yang pulang kampung mungkin bisa penuh lapangannya. Selain itu lebaran di Indonesia yang berlangsung 2 versi membuat sholat Ied juga diselenggarakan 2 kali.

Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah di Lapangan Niti Mandala, Denpasar, Bali

Saya juga baru tahu kalau ternyata di Bali saat ini penduduknya sudah hampir mayoritas Muslim. Di Denpasar saja pemda setempat sampai bingung karena jumlah populasi Muslimnya kini mencapai 55%. Selama Bulan Ramadhan kemarin salah satu Masjid yang saya kunjungi di kota Denpasar memberikan data luar biasa tentang peningkatan mualaf dari warga asli Bali. Di masjid tersebut tidak kurang 15 orang pemuda-pemudi asli Bali memeluk agama Islam selama Bulan Ramadhan berlangsung. Mudah-mudahan mereka istiqamah dan selalu diberikan jalan yang lurus oleh Allah, amin…🙂

Memborong oleh-oleh dari berbagai kota

Mungkin inilah keuntungan liburan menggunakan kendaraan pribadi, yaitu bisa jajan apa saja sepanjang perjalanan. Saya yang selalu penasaran ingin mencicipi makanan khas dari berbagai daerah menjadi terpuaskan. Mulai dari telur asin panggang dari Brebes hingga kacang Asin dari Bali saya coba semua. Ya ndak semua sih, yang saya ingat itu tahu kediri yang di dalam ada siomaynya, jenang kudus, gethuk pisang, kripik buah oven dari Malang, macam-macam krupuk, dan masih banyak lagi. Sepanjang perjalanan saya ngemil oleh-oleh makanan khas.😀

Kalau oleh-oleh makanan khas dari Jogja cukup banyak, seperti Bakpia Pathok, Peyek Mbok Tumpuk, Geplak Kelapa, Apem dari Gunung Kidul, Kripik Belut, dll. Mungkin banyak yang akan akan saya bawa pulang ke Jakarta, soalnya FO yang sedari awal saya berangkat sudah bermanja-manja minta dibelikan oleh-oleh makanan.😀

Selain oleh-oleh makanan, saya juga membeli banyak kaos Bali, tas batik, dan aksesoris. FO tuh sebetulnya nggak terlalu ribet mintanya, dia cuma minta dibelikan oleh-oleh baju atau apapun itu asal yang ndak ada tulisan BALI-nya. Cuma menurut saya oleh-oleh khas Balinya bakal ndak berarti kalau ciri khas Balinya ndak ada. Ya ndak masalah sih buat saya selama FO bisa senang dengan oleh-olehnya.😀

Ngomong-ngomong, berhubung ini hari Jum’at maka saya mau bersiap-siap untuk Jum’atan dulu ya. Di sini khutbah Jum’atnya pakai Bahasa Jawa, jadi cukup menarik buat saya yang setiap minggu di Jakarta khutbah Jum’atnya selalu disajikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab saja. Nanti kita sambung lagi ocehan lebih lengkapnya setelah saya pulang ke Jakarta. Mata nee!!😀

~SD.

Catatan : Saya menulis postingan di atas menggunakan logat Jogja lho. Hehehe…😀