Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Ohayou gozaimasu, Indonesiajin-tachi!😀

Sudah dua malam saya nggak ngoceh, kali ini saya ngocehnya di pagi hari dan bertepatan dengan hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 66. Hohoho… angka yang menarik ya? Apakah pada angka ulang tahun Indonesia yang menarik ini ada yang mencoba membuat sebuah sejarah pada hari ini?

Menyikapi hari kemerdekaan Republik Indonesia, menurut saya kita malah belum merdeka dan masih terjajah.

Lho kok gitu?

Semenjak dari pemerintahan pertama hingga pemerintahan terakhir negeri ini, belum ada satu pun pemerintahnya yang mengerti apa itu arti kemerdekaan yang hakiki. Kalau saya bilang kemerdekaan doang, artinya itu kemerdekaan yang dipaksakan, karena itu diperlukanlah suatu yang hakiki alias yang sebetulnya dibutuhkan. Ingat, dibutuhkan bukan berarti sesuatu dari keinginan kita ya, tapi sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki meski kita tidak menginginkannya.

Apa itu Kemerdekaan yang Hakiki?

Pengertian ini saya kutip dari guru saya. Saat itu saya bertanya tentang arti kebebasan dan arti kemerdekaan. Sebelum kita membahas kemerdekaan, ada baiknya kita harus mengetahui arti kebebasan. Kebebasan menurut pengertian bahasa berarti lepas dan tidak terhalang apapun, namun kebebasan dalam artian yang sebenarnya adalah berbeda. Arti kebebasan yang sebenarnya adalah :

Kebebasan adalah sebuah keadaan saat suatu individu atau suatu kaum tanpa terikat segala kecintaannya terhadap dunia dan hanya menghambakan segala sesuatunya kepada Allah.

Mungkin sebagian dari kita merasa bingung, kebebasan kok malah menghamba? Ya, justru itulah point terpentingnya!

Saat suatu makhluk (entah itu Manusia, Jin, Alien, atau batu sekalipun) menghamba kepada Allah dan melepaskan segala kecintaannya dari dunia ini maka ia telah berhasil untuk membuat dirinya bebas dari nafsu buruk dan sisi buruknya.

Nah, sesuatu yang ada di dunia ini terkadang harus dipikirkan secara terbalik untuk mendapatkan jawabannya. Secara logika kalau kebebasan itu diartikan sebagai lepas dari apapun dan berhak melakukan apapun, maka kebebasan tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan mengambil hak kebebasan yang lainnya. Contoh sederhananya, jika ada seseorang secara bebas merokok di tempat umum maka orang tersebut telah merampas hak kebebasan orang lain untuk hidup secara sehat.

Dari sini kita sekarang tahu apa itu pengertian Kemerdekaan yang Hakiki.

Kemerdekaan yang Hakiki adalah sebuah keadaan/status suatu individu atau kaum yang menyatakan diri untuk tunduk dan patuh kepada segala hukum yang Allah turunkan kepada seluruh makhluk-Nya.

Mungkin ada orang yang berpikir bahwa pemikiran saya di atas ekstrim, tapi kalau kita pikir-pikir secara logika justru yang menentang pemikiran tersebut adalah makhluk Allah yang ekstrim! Kenapa saya bilang begitu? Karena dunia ini dan segala isinya adalah murni kepunyaan Allah semata. Bahkan ruh dan raga berdimensi tiga ini aja cuma dipinjamkan lho sama Allah!

~ Ngomong-ngomong kalau ada yang mau protes bahwa kemerdekaan adalah tunduk pada Allah, silahkan protes langsung ke Allah. Jangan salahkan saya ya kalau tiba-tiba besoknya keberkahan atau malah hak hidupnya di dunia ini dicabut.😆

Kalau kita belum merdeka, lalu apa yang menjajah kita?

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, yang menjajah kita adalah nafsu buruk dan sisi buruk kita yang hanya berpikir akan kecintaan kita kepada dunia yang fana. Penjajah yang sebenarnya justru diri kita sendiri lho! Kan kalau mau merubah segala sesuatu menjadi lebih baik, mula-mula harus memperbaiki diri sendiri dulu.

Lalu mengapa kita sebagai bangsa Indonesia belum merdeka?

Ada beberapa sebab, misalnya :

  1. Pemerintah Indonesia sebagian besar tidak patuh dan tidak tunduk terhadap hukum Allah. Parahnya lagi mungkin sebagian dari mereka tidak takut kepada Allah. Contohnya adalah korupsi sebagai bentuk kedurhakaan mereka kepada Allah.
  2. Kebanyakan bangsa Indonesia masih banyak yang menolak untuk menghamba kepada Allah. Parahnya lagi mungkin sebagian dari mereka tidak takut kepada Allah. Contohnya adalah masih banyak yang tidak peduli dengan saudaranya sesama bangsa Indonesia yang sedang dirundung kesusahan.
  3. Kebanyakan bangsa Indonesia dan pemerintahnya masih berpikir tentang nafsu dunianya sendiri-sendiri dan mungkin secara sadar maupun tidak sadar mendzalimi yang lainnya.
  4. Bangsa Indonesia hingga saat ini masih menolak untuk bersatu sebagai manusia yang derajatnya sama di hadapan Allah.
  5. Bangsa Indonesia masih banyak yang berbuat kerusakan di dunia dan tidak berbaik-baik dengan makhluk Allah lainnya, misalnya gunung, hutan, laut, dan langit yang dicemari oleh polusi; dan binatang ternak yang disiksa sebelum dipotong.
  6. Pemerintah Indonesia menjual kekayaan titipan Allah untuk keuntungan dirinya sendiri. Misalnya tambang hasil Bumi seperti minyak, emas, tembaga, dan sebagainya.
  7. Dan masih banyak sebab-sebab lainnya.

Oh iya, perhatikan kutipan ayat-ayat Qur’an dari surah ke-20 (Thaaha) berikut ini :

126. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.
127. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.
128. Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.
129. Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.
130 – 131. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.
132. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
133 – 134. Dan mereka berkata: “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?” Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu? Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?”
135. Katakanlah: “Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk.

Merinding sekaligus bersedih saya membaca ayat-ayat di atas. Banyaknya kaum-kaum modern dan terpelajar yang dibinasakan seperti kaum Nuh, Tsamud, ‘Aad, Atlantis, Aegean, Mu, Jawadwipa, Maya, dll. semuanya karena melampaui batas mereka sebagai makhluk yang seharusnya menghamba kepada Allah. Ingatlah bahwa Allah tidak akan mendzalimi makhluk ciptaan-Nya sendiri, kecuali bagi mereka yang durhaka kepada Allah.

Semoga ocehan renungan dari saya ini bisa mengetuk hati kita untuk dapat memerdekakan diri kita dan negeri kita ini, termasuk bagi saya sebagai orang yang menulis hal ini.🙂

~SD.