Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Cerpen ini saya buat kurang lebih 2 tahun yang lalu. Sejujurnya saya sih nggak terbiasa nulis cerpen. Saya terbiasa menulis cerita fiksi petualangan dan fantasi yang bersambung-sambung, jadi ini kali pertama saya menulis cerpen. Saya minta tolong kritik dan sarannya ya…😀

Judul : Bang Botak
Cerita oleh :
SD
Tahun Penulisan :
2009

Di depan kompleks perumahan mewah itu ada seorang mantan preman yang kini bekerja sebagai seorang satpam penjaga. Orang bilang, sewaktu dulu ia adalah seorang preman yang seringkali berbuat onar dan sering memalak anak-anak di kompleks perumahan itu. Karena warga gusar, kemudian ketua RT kompleks itu mengajaknya berbicara empat mata, dan akhirnya memutuskan untuk memberikan kepadanya pekerjaan sebagai satpam. Pekerjaan itu diharapkan akan membawanya kepada kehidupan yang lebih baik.

Orang memanggilnya Bang Botak karena ciri khasnya berupa kepalanya yang gundul plontos. Tak ada yang tahu nama aslinya, karena memang tak ada yang berani menanyakannya. Gayanya yang angkuh bagai kepala tukang pukul zaman kompeni dulu masih ia pertahankan. Mungkin ia pikir orang akan takut kepadanya. Namun begitu, perlakuannya akan sedikit berbeda bagi para penghuni kompleks perumahan mewah tersebut. Sedikit lebih santun dan agak menjilat, supaya para konglomerat yang tinggal di sana mau memberikannya uang tip lebih.

Suatu sore seperti biasa Bang Botak menjaga di pos gardu pintu masuk kompleks tersebut. Sebuah motor berhenti di depan pos tersebut. Seorang anak gadis berusia 16 tahun diboncengi kawannya seorang pemuda yang berusia kurang lebih 19 tahun.

Gadis itu kemudian memberanikan diri untuk menyapa orang yang ada di dalam pos tersebut.

“Permisi, Pak.”

“Siapa kamu?”

“Saya mau minta izin masuk kompleks ini, Pak. Saya ingin mengantarkan pesanan kue ke rumah ibu Netty di blok F.”

Botak yang masih setengah sadar karena baru bangun dari tidurnya kemudian melihat ke arah gadis itu. Terlihatlah seorang gadis yang manis dan berkulit putih. Rambutnya keriting sebahu dan memiliki senyum yang manis. Kemudian setelah sadar ia bertanya kepada gadis itu.

“Siapa nama kamu?”

“Saya Ulfah, Pak. Saya mau minta izin untuk mengantar kue pesanan ini ke rumah Ibu Netty.”

“Mengantar kue?”

“Iya, Pak.”

“Hei, tak perlu lah kamu memanggilku dengan sebutan Pak. Panggil aku Bang Botak.”

“Eh… iya, Bang. Maaf.”

Kemudian Botak melihat ke arah jendela pos itu. Terlihatlah seorang pemuda kurus yang menunggu di depan pos tersebut.

“Itu kakak kamu?” tanya Botak.

“Bukan, Bang.”

 “Kalau begitu itu pacarmu?”

Dengan sedikit ketakutan Ulfah menjawabnya, “I.. iya, Bang.”

Agak kesal Botak mengetahui kalau Ulfah sudah memiliki seorang pacar.

“Jelek sekali pacar kamu.”

Lalu Botak mengeluarkan kartu visitor dari laci di meja pos tersebut. Sambil menyerahkan kartu tersebut ke Ulfah, timbul niatan buruk Botak untuk menggoda Ulfah.

“Kamu tinggallah di pos ini. Biar pacar kamu saja yang mengantar kue itu. Itu aturan di sini supaya tidak ada orang macam kalian yang mungkin saja ingin mencuri.”

Tanpa berpikir yang macam-macam Ulfah lalu menerima kartu visitor tersebut. Kemudian ia keluar dari pos tersebut dan memberikannya kepada pacarnya.

“A’, aku nggak boleh masuk ke dalam kompleks sama satpam di sini. Katanya cuma satu orang aja yang boleh masuk. Aa’ kan bawa motor, jadi cepetan ya. Satpamnya galak, neng takut.” kata Ulfah ke pacarnya.

“Ya udah, Aa’ aja yang antar ke dalam. Neng tunggu ya di sini.”

“Iya, A’. Cepetan ya.”

Kemudian pemuda tersebut menyalakan motornya dan masuk ke dalam kompleks dengan mengenakan tanda visitor di kantung kemejanya. Ulfah lalu kembali ke pos tersebut dan duduk di depan pos, sementara Botak mengamatinya dari dalam pos.

“Masuklah!” teriak Botak dari dalam pos.

“Makasih, Bang. Saya di sini aja.”

Kemudian Botak keluar dari pos tersebut dan duduk di samping Ulfah.

“Malang sekali jadi kamu, punya pacar jelek dan kurus seperti itu.” kata Botak kepada Ulfah.

“Nggak apa, Bang. Jelek-jelek gitu dia orangnya baik.”

Kemudian Botak merayu Ulfah dengan memegang tangan Ulfah.

“Lebih bagus kamu jadi pacarku. Aku lebih ganteng dari pacar kamu.”

Ulfah yang merasa risih dengan perlakuan Botak kemudian berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Botak yang kuat.

“Lepasin saya, Bang!”

“Halah, kamu malu-malu denganku.”

“Kalau abang nggak mau lepasin nanti saya teriak!”

Botak yang takut dengan ancaman Ulfah kemudian makin menjadi. Ia kemudian mendekap mulut Ulfah dengan tangannya dan hendak membawanya ke dalam pos. Ia seperti kesetanan. Ulfah yang terancam jiwanya kemudian berusaha melawan, namun kekuatannya kalah bila dibandingkan dengan Botak yang bertubuh kekar. Tapi Ulfah kemudian berhasil berteriak.

“Tolong!! Tolong!!” teriak Ulfah.

Botak yang merasa kecolongan dengan teriakan Ulfah kemudian makin menjadi dan malah memukul lengan Ulfah, kemudian berhasil kembali ia mendekap mulut Ulfah. Di saat yang bersamaan pacar Ulfah kembali dan melihat Ulfah dalam kondisi yang dibekap oleh Botak. Pacar Ulfah kemudian menjatuhkan motornya. Tanpa pikir panjang pemuda kurus itu kemudian berlari hendak menolong Ulfah yang sudah lemas dibekap oleh Botak.

“Lepasin Ulfah!!” teriak pemuda kurus itu.

Pemuda itu berlari dan mencoba memukul Botak, namun kemudian ia terhempas seketika oleh tendangan kaki Botak yang lebih dahulu mengenainya. Botak kemudian melepaskan Ulfah yang sudah pingsan karena lemas dan kemudian memukuli sang pemuda kurus tersebut. Babak belur tubuh pemuda itu dibuat oleh sang satpam preman tersebut. Beberapa saat kemudian beberapa orang pemuda yang melihatnya kemudian berhenti dan bertanya kepada Botak.

“Ada apa, Bang!?” tanya seorang pemuda tersebut kepada Botak.

Botak yang takut dengan ancaman masuk penjara karena menganiaya pemuda kurus tersebut kemudian memutar otaknya dengan cepat untuk mencari alasan.

“Orang ini… Ya, orang ini mau memperkosa gadis ini itu. Aku pukuli saja dia.”

Para pemuda yang lewat tersebut, tanpa pikir panjang ikut memukuli pemuda kurus yang sudah tidak berdaya tersebut. Peristiwa tersebut berhenti setelah Ketua RT datang untuk menghentikan kejadian itu. Ulfah yang pingsan kemudian dibawa oleh pemuda-pemuda tersebut. Mereka bilang hendak diantarkan ke rumahnya. Sang pemuda kurus yang mereka pukuli dibawa oleh warga untuk dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang kritis.

Setelah kejadian tersebut, Botak selalu dihantui rasa bersalahnya. Ia tidak tahu bagaimana untuk menghentikan rasa bersalahnya. Saat ia bertanya dengan Ketua RT tentang kejadian tersebut, ia mendapatkan kabar bahwa sang pemuda kurus tersebut telah dipindahkan ke rumah sakit Polri dan menunggu hingga sembuh untuk pemeriksaan. Ingin ia ke rumah sakit Polri tersebut, namun ia tahu bahwa dialah yang sebenarnya bersalah. Ketakutannya akan masuk penjara lebih besar daripada ketakutannya akan rasa bersalahnya. Sementara Ulfah, gadis cantik yang ia buat pingsan pun tak ada kabarnya setelah dibawa pulang oleh pemuda-pemuda yang membantunya memukuli pemuda sang pujaan hati gadis tersebut.

~~~

Dua belas tahun berlalu semenjak kejadian itu. Botak masih berprofesi sebagai satpam di kompleks perumahan mewah tersebut. Ia sepertinya sudah melupakan kejadian tersebut. Kini di saat umurnya yang sudah hendak menginjak empat puluh lima tahun pun ia masih belum menikah. Ia kemudian berpikir kalau tak ada gadis yang berani mendekatinya karena sifatnya dan tabiatnya yang buruk tersebut. Tapi semenjak dua bulan yang lalu kehidupannya sedikit lebih berwarna karena kedatangan seorang gadis kecil yang lucu. Umurnya sekitar sebelas tahun. Gadis itu selalu mampir di posnya setiap hari untuk meminta izin memasuki kompleks. Namanya adalah Dira. Ia adalah gadis yang setiap hari bekerja membantu ibunya untuk mengantarkan makanan dan lauk-pauk pesanan salah satu penghuni kompleks tersebut. Makanan itu diantarkannya ke rumah Ibu Sisca, seorang wanita karier yang sehari-harinya terlalu sibuk di kantornya sehingga tak sempat memasak makanan untuk anak-anaknya.

Suatu pagi, seperti biasa Dira meminta izin kepada Botak untuk memasuki kompleks tersebut. Kemudian di saat yang bersamaan muncullah Ibu Sisca yang baru saja pulang joging. Kebetulan hari itu tanggal merah, sehingga Ibu Sisca bisa bersantai di rumah dan melakukan aktivitas olahraga. Namun begitu santapan sayur dan lauk-pauk lezat buatan Bundanya Dira pun tidak serta merta ikut libur, karena anak-anak Ibu Sisca sangat menyukainya.

“Dira, kemari nak. Berikan rantangnya ke Ibu.” suara Ibu Sisca yang memanggil Dira yang sedang berada di pos satpam.

“Ibu Sisca? Ibu nggak bekerja?” tanya Dira kepada Ibu Sisca.

“Tidak, sayang. Ibu sedang libur bekerja.” balas Ibu Sisca dengan senyuman.

Kemudian Ibu Sisca mengeluarkan uang dari kantung celana trainingnya. Selembar uang seratus ribu rupiah. Uang itu lalu diberikan kepada Dira.

“Ini uang untuk makanan hari ini.”

“Dira tidak ada kembaliannya, Bu. Uangnya terlalu besar.”

“Ambilah sisanya untuk Dira. Gunakan untuk membeli buku-buku sekolah kamu.”

“Tapi, Bu…” berkata Dira sambil merundukan kepalanya.

“Ayo, diambil ya sayang. Sampaikan juga salam dari Ibu untuk Bunda kamu.” kembali Ibu Sisca membalasnya dengan senyuman.

“Eh, iya nanti Dira sampaikan.” balas Dira dengan senyuman. “Terima kasih, Bu. Dira pamit dulu mau pulang.”

“Hati-hati ya, sayang.” balas Ibu Sisca.

Kemudian Dira meraih tangan Ibu Sisca dan mencium tangan tersebut dan berpamitan pulang. Ia mengayuh sepeda kecilnya dan semakin jauh dari pos tersebut.

Ibu Sisca yang lelah setelah joging kemudian meminta izin kepada Botak untuk beristirahat sejenak di pos tersebut.

“Bang, saya mau duduk sebentar di sini ya? Boleh?”

“Silahkan, Bu.” jawab Botak.

Ibu Sisca yang terlihat lelah tersebut kemudian mengintip isi rantang makanan tersebut, lalu merasakan aroma masakan dari Bunda Dira.

“Seperti biasa, sayur lodeh kesukaan anak-anak saya.” kata Ibu Sisca.

Botak yang heran kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Ibu Sisca.

“Setiap hari Ibu memesan makanan dari Dira. Apakah Ibu tidak berpikir untuk memasak sendiri atau makan di restoran?”

“Tidak, Bang. Saya memang bukan seorang Ibu yang bisa memasak. Hanya mi instan yang saya bisa.” kemudian Ibu Sisca tertawa kecil. “Tapi… masakan Bundanya Dira lebih enak dan lebih lezat daripada masakan di restoran. Sepertinya sudah cocok di lidah keluarga kami.”

“Ooh… begitu.” sahut Botak.

“Lagipula saya sudah menganggap Dira sebagai keluarga kami sendiri. Kasihan anak itu. Umurnya masih sebelas tahun, namun harus membantu orang tuanya untuk bekerja.”

“Orang tua macam apa yang membiarkan anak sekecil itu bekerja?” tanya Botak dengan nada sedikit tinggi.

“Bukan begitu, Bang. Itu sudah menjadi pilihan Dira untuk bekerja membantu Ibunya.”

“Tapi bukankah dia masih terlalu kecil untuk bekerja?” sambung Botak.

Kehidupan keluarga mereka kurang beruntung. Sejujurnya saya masih ada hubungan saudara jauh dengan Nenek dari Dira. Saat saya hendak menjadikannya anak, Bunda Dira selalu menolaknya. Ia bersikeras untuk membesarkan anaknya sendiri.”

“Sudah miskin, sombong pula.” sambung kembali Botak.

“Abang ini kenapa sih? Bawaannya su’udzon terus. Saya kan belum selesai bercerita.”

Terkejut Botak mendengar perkataan Ibu Sisca, kemudian ia meminta maaf kepadanya.

“Maafkan saya, Bu.”

Lalu Ibu Sisca melanjutkan ceritanya.

“Dua belas tahun yang lalu. Bunda Dira diperkosa oleh sekelompok pemuda. Semenjak itu ia menjadi bisu dan takut bertemu dengan orang lain. Pacarnya yang saat itu hendak menolongnya malah babak belur dihajar pemuda-pemuda brengsek tersebut. Saat itu kondisinya kritis dan dibutuhkan kurang lebih enam bulan untuknya agar pulih kembali, itu pun dalam kondisi kakinya yang lumpuh total.”

“Apakah Dira anak hasil perkosaan tersebut?” tanya Botak.

“Ya. Bunda Dira sangat sedih sewaktu tahu ia mengandung anak hasil perkosaan tersebut. Hampir saja ia ingin bunuh diri karena putus asa. Namun pacarnya yang sangat setia kepadanya memutuskan untuk menikahi Bunda Dira, dan kemudian tak lama lahirlah Dira. Keluarganya tak punya pilihan lain, karena takut dengan omongan orang.”

“Bunda Dira menikah dengan pacarnya yang lumpuh tersebut?” tanya Botak.

“Ia memang lumpuh. Tapi Ayah Dira memiliki semangat juang yang luar biasa. Walau lumpuh ia kini masih bekerja sebagai petugas tiket di Kebun Binatang. Gajinya memang tak seberapa, tapi saya yakin Allah pasti memberkahi kehidupan mereka.”

“Lalu bagaimana dengan pemuda yang memperkosa Bunda Dira? Apakah mereka dipenjara?” tanya kembali Botak dengan penasaran.

“Saya dengar mereka mati karena kecelakaan saat melakukan balapan motor liar. Mereka tercebur di sungai dan kepala mereka hancur dimakan buaya. Mungkin itu balasan karena perbuatan biadab mereka.”

Botak kemudian terdiam setelah mengetahui peristiwa yang dialami Dira, gadis kecil yang lucu dan menyenangkan yang sehari-hari meminta izin kepadanya untuk mengantarkan makanan ke rumah Ibu Sisca. Tak lama setelah pembicaraan itu, Ibu Sisca berpamitan pulang dan berterima kasih karena telah diberikan tempat untuk beristirahat sejenak.

Keesokan paginya, Dira kembali meminta izin kepada Botak untuk pergi ke rumah Ibu Sisca. Botak mengatakan kepadanya supaya dia tidak perlu lagi meminta izin kepadanya, karena ia sudah pasti tahu Dira hendak ke mana.

“Dira kan sudah sering datang ke sini, jadi Dira nggak perlu lagi minta izin ke Bang Botak.”

“Tapi kan Dira capek, mau duduk di sini dulu.” kata Dira dengan nada manja.

“Ya sudah. Dira boleh mampir ke sini kalau capek.” sambung Botak.

Dira kemudian mengantarkan makanan ke rumah Ibu Sisca. Dari sana Dira kemudian kembali lagi ke pos Botak. Bukan hal yang biasa, karena memang sesudahnya Dira selalu langsung pulang.

“Lho, Dira kok ke sini lagi?” tanya Botak.

“Dira tadi di rumah Ibu Sisca, terus dikasih foto waktu Dira ke tempat kerja Ayah Dira di Kebun Binatang.” berkata Dira sambil memamerkan fotonya kepada Botak.

“Dira ke sana bersama Ibu Sisca?”

“Iya, sama Bunda, sama Nenek, terus sama Kak Arif dan Kak Susan juga.”

Arif dan Susan adalah anak dari Ibu Sisca.

Saat melihat foto-foto tersebut, betapa terkejutnya saat Botak melihat sesosok perempuan berjilbab yang sedang menggendong Dira dalam foto tersebut.

“Dira… ini foto siapa?” tanya Botak dengan penasaran bercampur takut.

“Itu foto Bunda Dira. Namanya Bunda Ulfah.”

Bagai petir menyambar kencang di siang bolong, Botak terkejut mendengar nama Bunda dari gadis kecil yang selama ini selalu bersikap baik terhadapnya tersebut. Bunda Dira yang menjadi bisu karena diperkosa, dan Ayah Dira yang menjadi lumpuh karena dipukuli, itu semua adalah karena hasil perbuatannya. Dan pemuda-pemuda yang membantunya memukuli Ayah Dira tersebutlah yang pasti telah memperkosa Bunda Dira.

Ia benar-benar dikerubungi oleh rasa ketakutan dan penyesalan yang amat sangat, matanya terbelalak ketakutan, ia pun menjadi bisu seketika. Dalam pikirannya dipenuhi rasa takut akan panasnya Neraka Jahanam. Ketakutannya kini menjalar ke seluruh tubuhnya yang menjadi panas dingin. Ia menggigil ketakutan. Saat ia tersadar, semuanya sudah terlambat, terdengar bisikan dalam kupingnya yang mengatakan bahwa, “Waktumu sudah habis.” Ia kemudian terjatuh karena rasa sakit di dadanya. Seperti ada yang mencengkeram jantungnya.

“Bang Botak… abang kenapa!?” teriak Dira sambil menangis.

Ingin sekali Botak mengucapkan permintaan maaf kepada Dira karena perlakuannya dahulu kepada kedua orang tuanya. Namun ruhnya kini sudah melewati kerongkongannya, dan siap terlepas melalui ubun-ubunnya. Rasa sakit yang amat sangat menjadikannya bagai cacing yang menggelepar di terik matahari. Itulah sakaratul maut, penderitaan manusia di penghujung hidupnya. Kematian yang amat mengerikan yang hanya diterima oleh orang yang gagal dalam menghambakan dirinya kepada Allah selama di dunia. Karena Allah hanya mau menerima orang yang selama hidupnya berbuat kebaikan terhadap sesama makhluk-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Botak kemudian mati dalam keadaan seburuk-buruknya kematian manusia. Dua Belas tahun lamanya dia diberikan kesempatan di dunia untuk melakukan pertaubatan, namun tak dilakukannya.

Dira yang menangis kemudian kembali ke tempat Ibu Sisca. Ibu Sisca terkejut mendengar bahwa Bang Botak sudah mati. Dalam hati Ibu Sisca berkata, “Mungkin itulah kematian yang pantas diberikan untuk orang yang sudah menghancurkan kehidupan Ulfah.”

-tamat-

Catatan : Cerita ini nggak ada maksud menyudutkan profesi satpam. Satpam itu salah satu profesi yang mulia karena menjaga keamanan. Dalam cerita ini kebetulan aja si Bang Botanya yang sifatnya jahat.

Catatan lagi : Cerita dalam cerpen ini adalah murni karangan SD, bukan kisah nyata dan mudah-mudahan nggak ada di kenyataan. Nama-nama dalam cerita ini pun hasil khayalan SD, jadi kalau ada kesamaan nama atau tempat atau kejadian, itu bukan salah SD. Kebetulan doang itu.😛